Penaberitanusantara.com-Puluhan pohon pisang ditanam warga di sepanjang jalan Bangun Mulyo di Kilometer 6 dan7, RT 18 Desa Bangun Mulyo dan RT 14 Kelurahan Waru, Kecamatan Waru, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), jalan tersebut merupakan jalan poros dan akses menuju PT WKP di Kecamatan Waru.
Aksi warga menanan Pohon pisang di sepanjang jalan di wilayah dua Kelurahan/desa tersebut merupakan bentuk ketidak puasan mereka, pasalnya jalan yang sehari harinya selalu dilalui kendaraan baik aset perusahaan PT WKP juga dilalui kendaraan pemuat buah sawit milik masyarakat dan merupakan jalan utama warga Kelurahan Waru dan Desa Bangun Mulyo. Senin (28/19- 2024)

Sejauh ini warga berharap ada perbaikan jalan baik itu aspal atau semenisasi, namun kenyataannya saat ini jalan sepanjang kurang lebih 17 Kilometer tersebut saat ini memang ada pengaspalan tapi hanya sepanjang kurang lebih 1 kilometer saja, sedangkan ruas jalan lainnya kondisinya masih rusak.
Ketua RT 014 Kelurahan Waru Syahdin yang saat itu dihadiri juga Babinmas Kelurahan Waru menuturkan bahwa sebenarnya untuk perbaikan jalan Bangun Mulyo tersebut sering mendapatkan bantuan dana dari PT WKP, dana tersebut bukan langsung dari Kantor WKP di Kecamatan Waru tapi dari Kantor Pusat PT WKP di Jakarta disalurkan melalui Pemerintah Provinsi Kaltim, diteruskan ke Pemkab Penajm Paser Utara dan diserahkan ke Pemerintah Kecamatan Waru, Syahdin menjelaskan, di Kecatan Waru yang mengatur alokasi dana tersebut.

“Terkait dana yang dimaksud ada ketidak puasanya warga lantaran seharusnya dana sebesar Rp 12,800 Miliar itu terbilang memadai untuk perbaikan jalan walaupun tidak sepenuhnya cukup menuntaskan perbaikan jalan tersebut, namun sangat disanyangkan sebagian dananya dialokasikan untuk perbaikan jembatan di Mata Air Desa Bangun Mulyo menuju Desa Sesulu,” ungkap Syahdin.
Rian salah satu Warga RT 05 Kelurahan Waru menambahkan Pihak PT WKP telah mengucurkan dana sebesar Rp 12, 800 Miliar itu, seharusnya memadai untuk perbaikan jalan tersebut, karena jalan tersebut merupakan jalan poros menuju PT WKP, yang dilalui kendaraan baik aset PT WKP sendiri, Pemuat Sawit dan kendaraan warga lainnya.

“Lantaran kondisi jalan mengalami kerusakan 50 hingga 70 pesen, berakibat menebarkan debu yang dapat mengganggu kesehatan, padahal di kawasan tersebut banyak terdapat anak sekolah yang berdomisili dan antar jemput,” jadi kita disini bukan lagi menghirup udara berdebu bahkan bisa dikatakan memakan debu, ini dikhawatirkan berdampak menimbulkan berbagai penyakit bisa menghinggapi warga sekitar,” tukas Rian.
“Kami menyesalkan pihak pemerintah setempat baik Pemerintah Desa Bangun Mulyo maupun Pemerintah Kelurahan Waru yang telah mengalokasin dana perbaikan jalan, kami nilai kurang proporsional, berbicara Prioritas jalan poros menuju PT WKP lah yang paling prioritas, apalagi jalan tersebut berada di wilayah ring satu, lalulintasnya kendaraan yang berkepentingan dengan perusahaan paling banyak,” ujarnya.

Lantas lanjut dia mengapa tiba tiba ada alokasi anggaran yang dialokasikan untuk perbaikan jembatan di Mata Air, Desa Bangun Mulyo menuju Desa Sesulu sehingga dana yang tersisa hanya cukup untuk pengaspalan sepanjang kurang lebih 1 kilometer di RT 014 Desa Bangun Mulyo dan 018 Kelurahan Waru, jalan poros menuju PT. WKP.
“ Kami berharap kepda pihak atau dinas terkait untuk menangani permasalahan ini, kami Apresiasi kepada Pihak PT WKP yang telah mengucurkan dana bagi perbaikan infrastruktur yang dilintasinya, namun hanya pengalokasiannya yang kami nilai tidak proporsional, kami ingin perbaikan jalan dilaksanakan secara maksimal sesuai anggaran yang telah disalurkan PT WKP dan sesuai spek dan perencanaan yang ada,” ujar Rian. Tim liputan ; (Iskandar/Jalal)


