Pena Berita Nusantara.com – Setiap 5 tahun sekali organisasi harus menjalankan siklus perganian kepemimpinan, ini adalah forum yang paling formal sekaligus paling serius, tapi seserius apapun itu kalau sudah masuk dalam lingkungan Nahdlatul Ulama, semuanya menjadi cair.

Hal ini disampaikan Rois Suriyah PC NU Penajam Paser Utara (PPU) KH Rofiqul Ikhwan pada Konferensi ke III Tahun 2025 Pengurus Anak Cabang GP Ansor Kecamatan Waru, mengusung tema Merawat Militansi, Menjaga Konsolidasi, Membangun Peradaban, ini dilaksanaka di Balai Serba Guna Kelurahan Waru Kecamatan Waru, Kabupaten PPU, Pada Minggu 30 November 2025.
“Harus ada kesadaran baru, motivasi baru dan orientasi baru, pada setiap pergantian kepengurusan, sehingga tidak ada pengurus yang baru nanti sedikitnya dalam 8 bulan sudah mampu memberikan satu perubahan atau warna bagi organisasinya, itupun jika pada tahun berikutnya hingga akhir, masih terjaga,” tandas Rofiq.
Ia berharap anggota GP Ansor tidak terjadi seperti yang lalu hanya aktif hingga 3 bulan, namun kita tetap berharap selama 5 tahun aktif terus, memupuk militansi mengapa jadi sangat penting, menjadi kesadaran bersama bahwasanya dalam konteks niat keagamaan itu mejadi faktor penentu.
“Sejauh mana amalan, aktifitas kita, efektif dan mendapat berbagai nilai dari Allah SWT, maka niat dalam konteks organisasi itu adalah menjaga militansi, menjaga semangat, menjaga semangat untuk terus mengabdi pada langkah langkah dan visi-misi organisasi,” tegasnya.
Dikatakn, ada 2 unsur di NU yang merupakan satuan resmi dan ikatan, tak boleh ada interpretasi, tak boleh ada tafsir pribadi, ini terlihat dari Ansor Banser dan Kader Penggeraknys, karena dasar keterlibatannya di NU adalah berpijak pada bai’at atau janji, tetapi untuk banser dan kader penggerak, menjadi anggota memulai sejumlah proses yang diakhiri dengan Bai’at.
Berdasarkan proses awal keterlibatan satuan Ansor dan KP NU maka militansi menjadi wajib bukan pilihan, namun merupakan semangat diri dan merupakan kewajuban langsung ketika berbai’at, konsekuensi logistik ketika seseorang berbai’at maka harus rajin aktif karena jauh di dalam kesadarannya harus ada pemahaman bahwa kita selalu dalam pengawasan, selalu didalam monitor dia yang menjadi Subjek Bai’at.
“Karena kita sudah berjanji kepada Muassis dan berjanji kaepada Allah SWT ,tindak lanjut dari janji ini harus terimplementasi, harus terwujudkan dalam aktivitas kita, khidmad kita yang penuh dengan semangat dan militansi,” tambahnya.
Oleh krenanya lanjut Rofiq, siapapun yang menjadi ketua PAC Ansor dirinya meminta semua anggota Ansor dicari, dihubungi dan ditawari, siapa yang mau lanjut menjadi anggota Ansor dan Banser atau pilih mundur, ini merupaka sipat rahmatnya organisasi yang sudah terlanjur bai’at, kalau masih lanjut, jika dalam setahu ada sepuluh kegiatan minimal 4 kali kegiatan harus ikut hadir.
“Padahal masing-masing kita terikat bai’at, jadi tidak berdosa kita tawari kalau mau lanjut minimal ada semangat, ada militan, harus ada yang menunjukkan beberapa kegiatan dalam berorganisasi, kalau sudah tak memiliki gairah atau semangat alangkah baik menyatakan mundur secara tertulis, kalau sudah ada pernyataan mundur secara tertulis, maka terbebas segala dari kewajiban sebagai Ansor dan Banser, maka tidak lagi dianggap kunjungans karena melanggar baiatnya,” tutup Rofiq.
Sementara itu Sudono ketua GP Ansor PAC Waru demisioner mengakui banyak dinamika dan tantangan yang ia hadapi semasa dirinya menjabat ketua, namun ia berharap apa yang menjadi keputusan dan siapa pun nanti yang terpilih menjadi ketua sekiranya bisa membawa perubahan dalam Organisasi GP Ansor di Kecamatan Waru
“Masa kepemimpinan saya, GP Ansor Kecamatan Waru secara keanggotaan dan melalui kegiatan banyak mengalami tantangan, kegiatan banyak namun keaktifan anggotanya mengalami penurunan, bahkan mengalami kemerosotan yang luar biasa, ini dari sisi anggota,” ungkapnya.
Menurutnya, dari sekian banyak anggota yang berjumlah sekitar 200, namun terdeteksi tingkat keaktifannya hanya sekitar 20 persen, data ini ia ambil dari daftar hadir di setiap kegiatan, laporan ini berdasarkan daftar hadir selama berkegiatan,” terkait persoalannya nanti kita musyawarahkan apa solusinya, untuk dilaksanakan di tahun yang akan datang, mudah mudahan dalam konferensi ini menghasilkan satu kepahaman yang dapat dijalankan di masa yang akan datang,” harapnya.
Sedangkan Ketua GP Ansor PAC Waru terpilih Dody Irawan menyatakan, sebagai pemimpin, ia akan belajar menjadi figur dan nakhoda,” dalam hal ini sebagai pemimpin Anak Cabang GP Ansor Kecamatan Waru, saya berpesan kepada sahabat semua, ketika semua telah mendorong saya untuk menjadi seorang pemimpin, pesan saya jangan sekali kali saya ditinggal sendirian,” pintanya.
“Biar gagah seorang nakhoda kalau tak ada penumpangnya maka nakhoda tak terlihat gagahnya, seorang komandan kalau tak ada pasukannya yang dikomandani siapa, oleh karena itu saya minta bimbingan, saran dan kritik sahabat semua, terutama Pimpinan Cabang GP Ansor, sudah barang tentu jangankan kata sempurna, kata bisapun masih jauh untuk saya,” tutupnya. (Edison NSM jala/Iskandar)





