Pena Berita Nusantara.com – Masih dalam rangkaian Peringtan Hari Ulang Tahun Santri 2025 pengurus Masjid Nurul Huda Km 6 Desa Giripurwa Penajam Paser Utara mengadakan serangkaian acara mengundang santri di pondok terdekat dan sekitarnya

Dalam kegiatan tersebut tampil Ustadz Ghozali sebagai penceramah yang inti ceramahnya bertajuk ,Mengawal Indonesia merdeka menuju Peradaban Dunia, dimana santri NU saat ini sedang diuji oleh Allah, para kiyai kita juga sedang diuji, berangkat dari isu yang dihembuskan melalui siaran TV Swasta menyebut Ponpes Lirboyo sebagai sebuah skandal, sontak sebagian warga ponpes dan warga NU menyebut ini mengirim pada sebuah penistaan, yang menuju sebuah klaim negatif pada lembaga pendidikan agama di Indonesia.
Saluran TV tersebut juga mengklaim para santri terkesan diperbudak, berada dalam sistem peodalisme oleh para kiyai dan para guru Ponpes, namun hal ini dibantah oleh banyak kalangan guru dan kiyai
Ustadz Ghozali menjelaskan bahwa tak ada aksi seperti yang disiarkan dalam acara TV itu yang mangatakan ponpes mengeksploitasi para santri, yang ada ujar Ghozali setiap santrikkan menuju pengabdian dan kecintaanya pada kiyai dengan cara mengerahkan tenaga tanpa diperintah,” kalau disuruh belajar para santri malasnya bukan main, tapi kalau ada kegiatan, mereka berebut ingin ambil bagian dalam setiap pekerjaan,” terang Ghozali.
Menurutnya tradisi pondok, kalau disuruh belajar muridnya rada malas, tapi kalau disuruh gotongroyong membangun pasilitas pondok mereka berebut ingin ikut ambil bagian dalam bekerja, ini tradisi yang sudah tertanam di setiap santri,” dari kebiasaan ini, oleh sebuah siaran TV menyebut diperbudak, padahal bukan,” tegas Ustadz Ghozali.
Dikatakannya, bagi seorang santri atau murid itu adalah takzim atau hormat kepada guru atau kiyainya itu adalah satu kewajiban bagi santri, bukan menghamba tapi menghormati dan mengabdi, saking senangnya santri kepada guru, ini yang disebut abdil barokah kepada guru, abdil barokah kepada pondok pondok yang ditempati.
“Sehingga apa yang kita pelajari dan apa yang kita ambil dari pondok pesantren, keluar dari pesantren membawa keberkahan baik di rumah tangga, lebih pada umumnya dalam bermasyarakat, membela bangsa dan tanah air kita, nah itu adalah tujuan kita,” jelas Ghozali.
Maka saat ini, ujar dia, ponpes sedang diuji, untuk itu ia berharap kepada seluruh masyayikh dan para ustadz, agar selalu titip doa setelah usai solat,” kita berdoa ya Allah ampuni dosa ummatnya nabi Muhammad, ya Allah tutupilah segala kesalahan dan aibnya ummat nabi Muhammad, bahagiakanlah mereka ya Alla,” seru dia.
Karena saat ini santri diuji, pondok pesantren lagi diuji, maka dari itu semangat untuk santri, bangkitkan semangat untuk membela tanah air Indonesia, bangsa dan negara, penghormatan ini harus diperjuangkan.
Diakhir rangkaian acara digelar Makan Bersama para satri dan sejumlah anggota Banser NU difasilitasi Pagar Nusa, Solawat kepada Nabi, di bawah bimbingan Ustadz Saba’i, dilanjut mahallul kiyam sebagai Tawassul untuk mengirim fatihah bagi guru guru dan pejuang yang telah gugur dalam meraih keimanan,” mudah mudahan mereka yang gugur dalam perjuangan membela tanah air mendapat tempat yang mulia di surganya Allah,” ujar Ustadz Ghozali. )Edyson NSM Jalal)


