Penaberitanusantara.com–Puluhan warga RT 014 Kelurahan Waru dan warga RT 018 Desa Bangun Mulyo, Kecamatan Waru, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) kembali turun kejalan, pada Jumat (1/11), menindak lanjuti aksi mereka pada Selasa (28/10) yakni menanam pohon pisang di dijalan Bangun Mulyo Kilometer 6 dan 7 menuju PT WKP, sebagai bentuk protes atas pengaspalan jalan yang menurut warga tidak sesuai harapan.
Pengaspalan yang ada hanya sekitar 1 kolometer dari jalan provinsi menuju Desa Bangun Mulyo dan 1 kilometer lagi di sekitar Kilometer 6 dan 7, yang telah menggunakan dana masing masing sebesar Rp 8.057.139.800. dan Rp 1.132.293.400.
Sementara pembangunan jembatan di Desa Bangun Mulyo menuju Desa Sesulu menelan lebih besar biaya yaitu Rp 10.137.673.100. pembangunan jembatan inilah yang dipertanyakan warga karena menghabiskan dan yang signifikan, sementara perbaikan jaln tidk dilaksanakan sebagai mana harapan warga RT 014 Kelurahan Waru dan Warga RT 018 Desa Bangun Mulyo.

Oleh karenanya warga menuntut pengaspalan jalan minimal 6 kilometer meliputi RT 014 Kelurahan Waru dan RT 018 Desa Bangun Mulyo,” pertemuan hari ini kami fokus menuntut pengaspalan jalan,” teriak salah satu warga.
Bahkan mereka bersikukuh mempertanyakan mengapa dana perbaikan jalan dialihkan kepada pembangunan Jembatan, sedangkan menurut mereka kucuran dana dari PT WKP diperuntukkan bagi perbaikan jalan, bukan pebangunan Jembatan.
Ini kata warga akses ke perusahaan sedangkan jembatan adalah akses menuju sawah, warga menuding tindakan seperti ini sama saja dengan cari masalah, bila masalah ini tak terjawab mereka mengancam akan menurunkan kades dari jabatannya.

“Tujuan kami berkumpul hanya minta keadilan, perbaikan jalanan itu yang jadi tuntutan, tolong perhatikan kami, kami telah membayar pajak pada pemerintah, untuk itu kami menuntut jalan aspal, apabila tidak diaspal siapapun tak boleh lewat jalan ini termasuk perusahaan, jalan akan kami ditutup,” ancam salah satu Warga.
Mereka berdalih akses jalan Bangun Mulyo menuju PT WKP merupakan wilayah Ring Satu, namun kata mereka malah dianak tirikan,” sudah 30 tahun kondisi jalan seperti ini, bila hujan berlumpur, bila kemarau berdebu, perusahaan PT WKP hanya kasih batu, namun ini masih berbahaya, sudah banyak korban terkena batu yang melesat mengnai mata. Untuk itu minta pihak terkait untuk menyikapi keadaan ini, kami minta keadilan semua pihak baik perusahaan maupun pemerintah,” seru mereka.
Lurah Waru Herry Febry yang kehadirannya dinantikan warga berhasil menenangkan warganya, terkait hal ini Lurah waru menjelaskan bahwa kewajib perusahaan adalah setor dana seperti CSR ke pemerintah, baik itu perbaikan jalan maupun infrastruktur lainnya.

“Saat pembahasan di kantor camat beberapa waktu lalu, untuk pelaksanaan pekerjaan tahun ini ada kesepakatan menyebut pengspaalan sepanjang dua ratus meter dari tugu Waru menuju Desa Bangun Mulyo juga jalan dari Bangun Mulyo menju Desa Sesulu.
Adapun untuk menjawab pertanyaan warga soal perbaikan jalan Bangun Mulyo selanjutnya Lurah berjanji akan membahas bersama LPM melibatkan masyarakat waru, bersama sama pergi ke Dinas PU PR,“Anggap saja saya berada di posisi warga tidak di pemerintahan, kita akan undang pihak terkait, lakukan rapat dan bersama sama meninjau ke lokasi Jalan Bangun Mulyo,” ujar Febry.
Pernyataan Lurah langsung ditanggapi warga,” ini keluhan masyarakat yang kesekian kalinya pak, kami sudah Capek mengikuti pertemuan serupa di kelurahan, sebaiknya kita langsung saja bersurat ke DPRD bukan di kantor lurah lagi, pernah juga dilakukan pertemuan di kecamatan namun tak ada hasil,” uacap salah satu warga.
“Saya menawarkan solusi, layangkan lagi undangan yang ditujukan kepada pihak terkait, seperti DPRD, Dinas PU, Bapelitbang, dan Bapenda, untuk bahas bersama persoalan ini,” ujar Ferry.
Sedikit berbeda dengan Kepala Desa Bangun Mulyo Boiran, saat dicerca dengan pertanyaan pedas oleh warga terkait pengalihan anggaran perbaikan jalan ke pembangunan jembatan, Boiran terkesan kurang piawai mengahadapi warganya yang melontarkan pertanyaan dan kalimat berapi api.
Kades Bangun Mulya sedikit memberikan penjelasan, ia hanya mampu menyebut soal DPH,” kami tak tau banyak soal itu, kami hanya mengusulkan tolong desa kami Bangun Mulyo usul perbaikan jalan sepanjang 6 kilometer. Kalau menuju desa Sesulu kami tak tau, Kami hanya bisa mengusulkan.

Rian Warga RT 05 Kelurahan Waru mempertanyakan, pembangunan jembatan menghabiskan anggaran senilai Rp10 miliar benevitnya apa?, kami saat ini makan debu, kami berharapa secepatnya usulkan kembali agar secepatnya dilakukan pengaspalan,” desak Rian.
Warga menegaskan bahwa Kades merupakan pilihan masyarakat, untuk itu kades harus bertanggungjawab, bila disini tak dilakukan pengaspalan secepatnya maka dilakukan penutupan jalan, terdengar suara lantang dari warga anggaran Jembatan yang semula Rp 5 miliar tiba tiba berganti menjadi Rp 10 miliar,
“Kami tak mau tahu, dana perbaikan jalan harus di alokasikan perbaikan jalan, malahan jalan yang masih bagus ditebalkan sekian centi, pihak manajemen PT WKP sudah diundang malah tak mau hadir, kalau perwakilan perusahaan tak mau hadir maka kami putuskan untuk memortal jalan,
Saat berita ini dirilis belum tercapai kesepakatan antara warga dangan Pemerintah Kelurahan Waru dan Pemdes Bangun Mulyo, warga bertindak melakukan penutupan total terhadap jalan, tak ada kendaraan yang berhubungan dengan Perusahaan yang boleh melintas kecuali kendaraan warga. (Iskandar/Jalal)


